kisah pencarian batas kehidupan 'menemui' Sang Hyang Menemani
9:34 PMAda kenikmatan di ujung kehidupan. Pecandu adrenalin seringkali begitu bangga menjemput batasan. Alasan itulah yang mampu menalar aktivitas terjun dari titik tertinggi, menjelajahi ketidakmungkinan permukaan Bumi, hingga menyelami kedalaman. Petualangan 'nyerempet-nyerempet' bahaya macam ini seringkali dianggap tidak waras bagi kebanyakan manusia. Tapi di kalangan pecandu kepasrahan, pengalaman antara hidup mati sedemikian menarik diperbincangkan. Hingga kemudian saling mencicipi sumber-sumber pelemas tubuh itu. Soal hasil 'bertemu' Tuhan Sang Hyang Menemani, sudah pasti menjadi rahasia masing-masing pemeran lakon.
Malam ini, beberapa sesepuh sisi ini berkumpul merumuskan tentang apa yang sudah ditemukan dalam kenekatan menemukan batasan. Yang hadir ketika kesempatan telah diberikan justru momen hening beberapa menit. Masing-masing larut dalam pemanggilan gambaran dari labirin-labirin ingatan. Suasana syahdu seketika menyelimuti lincak bercahayakan senthir elektrik di aula berisi gamelan tua. Hawa mistis pembuat bulu kuduk berdiri menyeruak tanpa pamit terlebih dahulu. Lantas mata-mata berkeriput itu terlihat mengembun, menggantikan gelak tawa berjam-jam sebelumnya. Anak-anak muda penerus para penempuh jalur sunyi mulai berbisik. Selain pengetahuan minim, pengalaman pun baru secuil. Wajar jika tak paham akan kesunyian nan romantis itu.
"Ia begitu Indah, Nak." Sesepuh dunia terjun payung itu memecah kebekuan di malam yang mulai memasuki dini hari. "Seolah setiap terjunku adalah kembali ke pelukan-Nya. Mataku tertutup merasakan kemesraan tiada terkira. Hingga hijau, biru, putih, hitam, dan segala macam warna menyambutku saat membuka kelopak mata. Tak ada keindahan seindah itu ketika kupijakkan kaki di Bumi. Sesuatu yang kutemukan hanya ketika menjatuhkan diriku pada kepasrahan. Batasan antara tali di dada, parasut, dan terhempasnya raga meninggalkan semesta. Sekian menit bahkan detik itulah khusyuk yang paling kurasa." Lanjutnya setelah menghela nafas panjang.
Sesosok pria sepuh berdehem, lantas menanggalkan putung kretek yang sedari awal mencumbu bibir tuanya. "Ia begitu Dekat juga, Nak. Di kecepatan lebih dari 100 kilometer per jam, jalanan lengang, dan seorang diri menempuh ratusan, bahkan puluhan ribu kilometer, tak ada sunyi yang lebih mengerikan. Bahkan detak jantung, desir darah, hingga geliat otot pun bisa demikian nyata terasa. Sepersekian puluh detik adalah batas antara hidup mati, melampaui batas reaksi manusia biasa yang butuh tiga detik. Maka siapa yang lebih dekat selain Ia Sang Hyang Maha Menemani?
Di titik itulah, kepasrahanku pada takdir-Nya sedemikian ikhlas. Ketika perlengkapan teraman menurut pandangan manusia bisa luluh lantak hanya karena segelintir kerikil. Maka begitu kuda besiku menderum, dan ku cengkeram tuas gas, di saat itulah kudeklarasikan per-syahadat-an terus-menerus, mengikhlaskan dunia seisinya pada kehendak-Nya. Bukankah hidup mati memang keputusan-Nya? Sedang aku hanya menjalani kewajibanku menjaga nikmat pemberian-Nya." Diambilnya kretek baru dari wadahnya, dilesakkan mesra untuk dicecap wujud nyata nikmat-Nya.
Malam terus bergulir seiring kisah-kisah pencarian batas kehidupan meluncur deras. Hingga giliran Mbah Surip memaparkan hasil pencarian sunyi ke seantero fenomena dunia. Sebelum sang sesepuh pencicip segala jenis batas hidup mati itu memulai, gelap gulita menyelimuti. Rupanya tiang listrik di ujung jalan menyala bak kembang api di langit malam kala bulan puasa menemui ujungnya. (Ihda Soduwuh)
#perjalanansunyi
#mengakrabibatasan
#menitipkanpengetahuan
#menularkanpengalaman

0 comments