Mengejar kemewahan memang tidak salah. Kurang pasnya adalah ketika si
pengejar berkoar tentang meniru kehidupan pada jaman Kanjeng Nabi.
Padahal menurut sejarah, kemewahan dan keseharian beliau seperti dua
sisi mata uang. Akan tetapi, para pengejar tadi begitu gigih mengkaitkan
dua hal bertolakbelakang. Mungkin disebabkan belajar sejarah
berdasarkan pada buku semata, atau sekadar membaca cerita pendek, novel,
bahkan tulisan-tulisan tanpa kejelasan siapa penulisnya di jagad dunia
maya.
Cinta pada gagasan kekasih, lebih kuat
bercokol dari sekadar atas ketampanan, bahkan kekayaan. Begitu simpul
istri saya ketika ditanya kenapa ada wanita-wanita mau mendampingi
suaminya hidup menderita. Para 'sigaran jiwa, garwa' atau separuh jiwa
itu melawan hukum logika kebanyakan. Seolah menutup mata dari kebutuhan
hidup primitif sejak jaman purba dulu. Baik sandang, pangan, papan,
bahkan daftar keinginan-keinginan.
Lihat saja
Sayyidatina Khadijah, istri pertama Kanjeng Nabi. Ia menanggalkan
kehidupan berkelimpahannya setelah menikahi karyawannya yang berumur 25
tahun bernama Muhammad. Si pemuda pun tidak hebat-hebat betul
pencapaiannya secara harta, apalagi kuasa. Hanya bertengger di kriteria
sedang-sedang saja, di pertengahan. Tapi karena pria berjuluk 'yang
terjujur' itu lantas memaparkan gagasannya, keresahannya akan kehidupan
masyarakatnya, si janda berusia 40 tahun itupun bertekad mendampingi
sepenuh hati melewati segala uji.
Terbukti selama
periode 25 hingga 40 tahun, sang suami sibuk menyendiri berpuluh-puluh
hari di dalam gua. Merenungi, kalau menurut teks tersaji. Merancang
strategi, jika berdasar langkah-langkah beliau selanjutnya. Pada masa
itu, tak banyak yang bertingkah 'nyeleneh' semacam itu. Karena memang
semedi, menyepi, apalagi di dalam gua, bukanlah tradisi bahkan termasuk
hal baru di daerah gurun pasir tersebut. Istri tercinta begitu setia
setiap hari mengantarkan perbekalan bagi suami tercinta.
Bahkan
ketika suaminya didapuk menjadi Pembenah Perilaku, sang istri berdiri
di depannya sebagai tameng. Baik dengan pengaruhnya sebagai seorang
berketurunan terhormat, maupun kekayaannya. Kala itu romantisme pria
melindungi wanita tidak seindah gambaran dalam novel-novel berbau
religius dekade ini. Dari sikap yang diambil saja sudah jelas kelihatan
bahwa Sayyidatina Khadijah bukanlah wanita lemah yang selalu minta
dimanja, dilindungi. Bahkan sekadar menuntut nafkah pun tidak, walau
hidup keluarga mereka pas-pasan. Sedang Kanjeng Nabi lebih asik mencari
solusi daripada mencari remeh-temeh duniawi.
Kehadiran
Sayyidatina Khadijah sangat terasa di kehidupan Kanjeng Nabi. Hingga
tahun kematiannya pun sampai dinamai masyarakat sebagai tahun berkabung
Kanjeng Nabi. Betapa rontoknya mental pria agung itu sampai-sampai
Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, juga Sayyidina Ustman, menawarkan
anak-anak mereka sebagai istri baru untuk melipur lara hati sang
pendobrak tatanan tradisi. Rupanya kehadiran istri baru mampu
meringankan beban hati, hingga beliau kembali melanjutkan pembenahan
tingkah laku bangsa gurun itu.
Berkacalah pada Fatimah,
putri Kanjeng Nabi yang begitu sederhana dalam menjalani hidupnya
dengan Sayyidina Ali. Bukankah setali tiga uang dengan karakter 'nrimo
ing pangdum', menerima apapun, ayahnya? Hingga tercatat sejarah ketika
ia menangis tersedu lantaran tangannya melepuh seusai menggiling gandum.
Sang Ayah menawari agar penggiling gandum bisa berputar sendiri, tapi
lantas ditolak oleh putri tercintanya. Memilih kesusahan dengan
mengikhlaskan apapun yang ia lakukan untuk pengabdian pada suami
tercinta.
Dari keluarga Kanjeng Nabi, terlihat benang
merah kesederhanaan. Hingga Sayyidina Umar dengan perangai kasarnya bisa
demikian tersentuh sampai menangis tersedu tatkala menyaksikan
kehidupan sehari-hari keluarga sosok teladannya itu. Keluarga yang tidak
pernah menikmati gandum selama dua hari berturut-turut. Bahkan
seringkali berpuasa karena ketiadaan apapun untuk dimakan.
Apakah
mereka lantas mengeluh, atau menadahkan tangan sekadar menerima uluran
tangan sahabat juga keluarganya? Tidak, bahkan dengan mantap Kanjeng
Nabi melarang anak keturunannya menerima apapun dari oranglain. Begitu
kuat beliau memegang prinsip dan menurunkannya pada anak cucunya di
kemudian hari. Lihatlah jejak langkah cucu terkasih beliau, Sayyidina
Hasan juga Husain. Begitu menerima pada penderitaan, kelaparan, dan
ketakutan, yang ditawarkan hidup kepadanya.

Beranikah
jujur membandingkan kemewahan keluarga masa moderen ini dengan keluarga
para manusia agung itu? Mereka hanya mencukupkan diri pada pemenuhan
kebutuhan, itupun bukan prioritas karena sering tidak dikejar. Apalagi
sekadar keinginan, sedangkan Sayyidina Ali begitu menginginkan kain
berbahan halus saja tidak kesampaian. Padahal beliau dan mertuanya
sangat bisa menikmati segala kemewahan dunia dan pemenuhan atas hasrat
keinginan.
Tapi mereka justru mengambil dunia
secukupnya, membuang kebanyakan darinya. Karena bagi mereka, hidup
adalah untuk mengabdi kepada kemanusiaan itu sendiri. Buktinya, Kanjeng
Nabi dan istrinya Khadijah memilih mengirimkan laba perdagangannya
sebagai hadiah kepada Raja Nasrani yang bersedia melindungi pelarian
penduduk Mekah. Atau mengirimkannya ke Madinah, sebagai hibah modal
usaha kepada warga di sana.
Lihat juga Sayyidina Ali
yang memilih menyedekahkah uang hasil bekerjanya berhari-hari pada
seorang pengemis. Lantaran itu, beliau harus menerima pengaduan sang
istri karena tidak bisa beli apapun untuk dimakan. Terpaksa mereka
berpuasa berhari-hari lamanya. Sebegitu malas atau tak punya peluangkah?
Tidak, melainkan memang tujuan hidupnya bukan untuk bersenang-senang,
melainkan memilah-milih kebaikan.
Maka sungguh miris
ketika pengaku-aku pendamba Kanjeng Nabi, pejuang sunah-sunahnya, tapi
dalam kesehariannya bergelimang kemewahan, keberlimpahan. Sedang dalam
kesempatan itu ada banyak orang berdiri atas tebing kefakiran, menunggu
terhempas ke jurang kekufuran. Tapi nyatanya, banyak yang memilih jam
tangan berharga jutaan, tas tangan berlabel puluhan juta, atau sekali
makan menelan ratusan ribu rupiah, daripada mengulurkan tangan pada
manusia-manusia putus asa.
Alangkah bijaknya ketika
dunia ditanggapi sewajarnya saja. Makan ya sesuaikan kebutuhan tubuh
akan gizinya, bukan harganya. Apapun yang melekat ke tubuh pun serupa,
gunakan saringan fungsi sebagai penentu mana saja yang akan dibeli.
Bukannya label merek atau rentetan angka rupiahnya. Rumahpun begitu,
dirikanlah pas dengan keperluan serta tujuan utama. Ingat, Kanjeng Nabi
pernah berpesan agar apa yang dikenakan tak boleh menyakiti siapapun di
sekitar. Termasuk menghindari peluang disapa sombong juga merasa hebat
sendiri. Padahal jelas-jelas merek, harga, ukuran, hanya ilusi rekaan
Dajjal alias Samiri.
Jadi, jangan jilat ludah yang
sudah terlanjur meluncur. Ke depannya, gunakan nalar sebelum
melontarkan. Bersihkan yang berceceran. Jangan sampai merek munafik,
bermuka dua, 'jarkoni', omdo, nato, menempel di tubuh. Nantinya percuma
berjidat hitam, karena label-label itu lebih besar keberadaannya.
Siapapun juga bisa segera melihatnya.
Meski begitu,
terus berusaha memperbaiki diri. Sedikit demi sedikit lama-lama
membukit. Begitupun ludah, perlahan diusap dengan tisu, kalau mau keluar
segera ditahan, agar tak perlu kerepotan menjilat apa yang sudah
diucapkan.
Salam Silat Lidah,
Ihda A. Soduwuh
