Berlimpah Atau Sunnah, Duhai Pengagum Nabi?

7:40 PM


Mengejar kemewahan memang tidak salah. Kurang pasnya adalah ketika si pengejar berkoar tentang meniru kehidupan pada jaman Kanjeng Nabi. Padahal menurut sejarah, kemewahan dan keseharian beliau seperti dua sisi mata uang. Akan tetapi, para pengejar tadi begitu gigih mengkaitkan dua hal bertolakbelakang. Mungkin disebabkan belajar sejarah berdasarkan pada buku semata, atau sekadar membaca cerita pendek, novel, bahkan tulisan-tulisan tanpa kejelasan siapa penulisnya di jagad dunia maya.

Cinta pada gagasan kekasih, lebih kuat bercokol dari sekadar atas ketampanan, bahkan kekayaan. Begitu simpul istri saya ketika ditanya kenapa ada wanita-wanita mau mendampingi suaminya hidup menderita. Para 'sigaran jiwa, garwa' atau separuh jiwa itu melawan hukum logika kebanyakan. Seolah menutup mata dari kebutuhan hidup primitif sejak jaman purba dulu. Baik sandang, pangan, papan, bahkan daftar keinginan-keinginan.

Lihat saja Sayyidatina Khadijah, istri pertama Kanjeng Nabi. Ia menanggalkan kehidupan berkelimpahannya setelah menikahi karyawannya yang berumur 25 tahun bernama Muhammad. Si pemuda pun tidak hebat-hebat betul pencapaiannya secara harta, apalagi kuasa. Hanya bertengger di kriteria sedang-sedang saja, di pertengahan. Tapi karena pria berjuluk 'yang terjujur' itu lantas memaparkan gagasannya, keresahannya akan kehidupan masyarakatnya, si janda berusia 40 tahun itupun bertekad mendampingi sepenuh hati melewati segala uji.

Terbukti selama periode 25 hingga 40 tahun, sang suami sibuk menyendiri berpuluh-puluh hari di dalam gua. Merenungi, kalau menurut teks tersaji. Merancang strategi, jika berdasar langkah-langkah beliau selanjutnya. Pada masa itu, tak banyak yang bertingkah 'nyeleneh' semacam itu. Karena memang semedi, menyepi, apalagi di dalam gua, bukanlah tradisi bahkan termasuk hal baru di daerah gurun pasir tersebut. Istri tercinta begitu setia setiap hari mengantarkan perbekalan bagi suami tercinta. 

Bahkan ketika suaminya didapuk menjadi Pembenah Perilaku, sang istri berdiri di depannya sebagai tameng. Baik dengan pengaruhnya sebagai seorang berketurunan terhormat, maupun kekayaannya. Kala itu romantisme pria melindungi wanita tidak seindah gambaran dalam novel-novel berbau religius dekade ini. Dari sikap yang diambil saja sudah jelas kelihatan bahwa Sayyidatina Khadijah bukanlah wanita lemah yang selalu minta dimanja, dilindungi. Bahkan sekadar menuntut nafkah pun tidak, walau hidup keluarga mereka pas-pasan. Sedang Kanjeng Nabi lebih asik mencari solusi daripada mencari remeh-temeh duniawi.

Kehadiran Sayyidatina Khadijah sangat terasa di kehidupan Kanjeng Nabi. Hingga tahun kematiannya pun sampai dinamai masyarakat sebagai tahun berkabung Kanjeng Nabi. Betapa rontoknya mental pria agung itu sampai-sampai Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, juga Sayyidina Ustman, menawarkan anak-anak mereka sebagai istri baru untuk melipur lara hati sang pendobrak tatanan tradisi. Rupanya kehadiran istri baru mampu meringankan beban hati, hingga beliau kembali melanjutkan pembenahan tingkah laku bangsa gurun itu.

Berkacalah pada Fatimah, putri Kanjeng Nabi yang begitu sederhana dalam menjalani hidupnya dengan Sayyidina Ali. Bukankah setali tiga uang dengan karakter 'nrimo ing pangdum', menerima apapun,  ayahnya? Hingga tercatat sejarah ketika ia menangis tersedu lantaran tangannya melepuh seusai menggiling gandum. Sang Ayah menawari agar penggiling gandum bisa berputar sendiri, tapi lantas ditolak oleh putri tercintanya. Memilih kesusahan dengan mengikhlaskan apapun yang ia lakukan untuk pengabdian pada suami tercinta.

Dari keluarga Kanjeng Nabi, terlihat benang merah kesederhanaan. Hingga Sayyidina Umar dengan perangai kasarnya bisa demikian tersentuh sampai menangis tersedu tatkala menyaksikan kehidupan sehari-hari keluarga sosok teladannya itu. Keluarga yang tidak pernah menikmati gandum selama dua hari berturut-turut. Bahkan seringkali berpuasa karena ketiadaan apapun untuk dimakan. 

Apakah mereka lantas mengeluh, atau menadahkan tangan sekadar menerima uluran tangan sahabat juga keluarganya? Tidak, bahkan dengan mantap Kanjeng Nabi melarang anak keturunannya menerima apapun dari oranglain. Begitu kuat beliau memegang prinsip dan menurunkannya pada anak cucunya di kemudian hari. Lihatlah jejak langkah cucu terkasih beliau, Sayyidina Hasan juga Husain. Begitu menerima pada penderitaan, kelaparan, dan ketakutan, yang ditawarkan hidup kepadanya.

Beranikah jujur membandingkan kemewahan keluarga masa moderen ini dengan keluarga para manusia agung itu? Mereka hanya mencukupkan diri pada pemenuhan kebutuhan, itupun bukan prioritas karena sering tidak dikejar. Apalagi sekadar keinginan, sedangkan Sayyidina Ali begitu menginginkan kain berbahan halus saja tidak kesampaian. Padahal beliau dan mertuanya sangat bisa menikmati segala kemewahan dunia dan pemenuhan atas hasrat keinginan. 

Tapi mereka justru mengambil dunia secukupnya, membuang kebanyakan darinya. Karena bagi mereka, hidup adalah untuk mengabdi kepada kemanusiaan itu sendiri. Buktinya, Kanjeng Nabi dan istrinya Khadijah memilih mengirimkan laba  perdagangannya sebagai hadiah kepada Raja Nasrani yang bersedia melindungi pelarian penduduk Mekah. Atau mengirimkannya ke Madinah, sebagai hibah modal usaha kepada warga di sana. 

Lihat juga Sayyidina Ali yang memilih menyedekahkah uang hasil bekerjanya berhari-hari pada seorang pengemis. Lantaran itu, beliau harus menerima pengaduan sang istri karena tidak bisa beli apapun untuk dimakan. Terpaksa mereka berpuasa berhari-hari lamanya. Sebegitu malas atau tak punya peluangkah? Tidak, melainkan memang tujuan hidupnya bukan untuk bersenang-senang, melainkan memilah-milih kebaikan.

Maka sungguh miris ketika pengaku-aku pendamba Kanjeng Nabi, pejuang sunah-sunahnya, tapi dalam kesehariannya bergelimang kemewahan, keberlimpahan. Sedang dalam kesempatan itu ada banyak orang berdiri atas tebing kefakiran, menunggu terhempas ke jurang kekufuran. Tapi nyatanya, banyak yang memilih jam tangan berharga jutaan, tas tangan berlabel puluhan juta, atau sekali makan menelan ratusan ribu rupiah, daripada mengulurkan tangan pada manusia-manusia putus asa. 

Alangkah bijaknya ketika dunia ditanggapi sewajarnya saja. Makan ya sesuaikan kebutuhan tubuh akan gizinya, bukan harganya. Apapun yang melekat ke tubuh pun serupa, gunakan saringan fungsi sebagai penentu mana saja yang akan dibeli. Bukannya label merek atau rentetan angka rupiahnya. Rumahpun begitu, dirikanlah pas dengan keperluan serta tujuan utama. Ingat, Kanjeng Nabi pernah berpesan agar apa yang dikenakan tak boleh menyakiti siapapun di sekitar. Termasuk menghindari peluang disapa sombong juga merasa hebat sendiri. Padahal jelas-jelas merek, harga, ukuran, hanya ilusi rekaan Dajjal alias Samiri.

Jadi, jangan jilat ludah yang sudah terlanjur meluncur. Ke depannya, gunakan nalar sebelum melontarkan. Bersihkan yang berceceran. Jangan sampai merek munafik, bermuka dua, 'jarkoni', omdo, nato, menempel di tubuh. Nantinya percuma berjidat hitam, karena label-label itu lebih besar keberadaannya. Siapapun juga bisa segera melihatnya. 

Meski begitu, terus berusaha memperbaiki diri. Sedikit demi sedikit lama-lama membukit. Begitupun ludah, perlahan diusap dengan tisu, kalau mau keluar segera ditahan, agar tak perlu kerepotan menjilat apa yang sudah diucapkan.


Salam Silat Lidah,
Ihda A. Soduwuh

You Might Also Like

0 comments