Sufi Metropolis
2:27 AMLelaki wangi dan modis itu duduk didalam cafe, sesekali senyumnya tersungging bersamaan dengan ibu jarinya yang bermain-main diatas layar gadget dalam genggamanya. Secangkir kopi dan dua potong kudapan sore hari menjadi temanya.
Ia nampak antusias membaca postingan dari beberapa grup facebook yang diikutinya, sesekali iapun menuliskan komentarnya.
Dua buah buku yang tebal berada diatas meja, yang satu bertuliskan syarah Al-hikam buah karya Syaikh Ibnu 'Athaillah Askandari sedangkan buku yang satunya lagi Tafsir Al-Jailani, sebuah krya monumental dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Q.S
Tak lama kemudian datang dua pemuda yang tak kalah modis dan wanginya, setelah mengucap salam dan saling berpelukan, bertiga mereka hanyut dalam obrolan yang hangat seputar haul, tawassul, tawajjuh, khotaman, suluk dan perjalanan ruhani.
Fasih sekali mereka menyebut nama-nama seperti Hadrotusyaikh Hasyim Ashari, Romo Kyai Asrori Al-Ishaqi, Syaikh Muslih Mranggen, Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin dan nama-nama ulama tassawuf terkemuka di negeri ini.
Mereka itu berusaha sembunyi dikeramaian, menjalani laku sufi ditengah modernitas zaman. Mereka bisa jadi adalah anda yang berpakaian lusuh diterminal, sahabat anda yang menjadi kuli bangunan, kakak anda yang berjualan air mineral atau adik anda yang menjadi buruh pabrik. Bisa jadi manusia-manusia akhir zaman yang sedang menjalani takdirnya. Akan tetapi mereka terus berjalan hingga keletihan itu letih mengikuti, terus berjuang dan berusaha hingga kebosanan itu bosan menghampiri. menaklukkan kuda liar dalam diri .. Merka terus berjalan melalui bimbingan para mursyid kamil mukammil.
0 comments